Sabtu, 20 April 2013

Apresiasi Sastra Pendekatan Ekspresif dan Vladimir Propp



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Novel merupakan sebuah  karya sastra yang paling popular di dunia. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius, sebuah novel serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita, tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Syarat utama novel adalah menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang selesai membacanya.

Novel yang baik adalah novel yang mampu menggugah pembacanya sehingga merasa penasaran dengan cerita-ceritanya, selain itu juga dapat membawa pembaca seolah-olah ikut merasakan dan terjun langsung sebagai tokoh-tokoh dalam cerita.  Sebaliknya novel hiburan hanya dibaca untuk kepentingan santai belaka, yang penting adalah memberikan keasyikan pada pembacanya untuk menyelesaikannya. Novel hiburan terikat dengan pola – pola, dengan demikian dapat dikatakan bahwa novel serius mempunyai fungsi sosial, sedangkan novel hiburan hanya berfungsi personal.

Novel yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini termasuk dalam jenis novel serius, karena novel ini bukan hanya novel cinta dan novel sastra saja, melainkan juga novel politik, novel budaya, novel religi, novel fikih, novel etika, novel bahasa, dan novel dakwah sehingga sangat menarik untuk dibaca. Novel ini lahir sebagai novel pembangun jiwa. Novel ini disajikan dengan kisah yang luar biasa, mengajarkan makna pelajaran penting dalam kehidupan yaitu bagaimana bergaul dengan sesama muslim dan bergaul dengan nonmuslim, selain itu novel ini juga menceritakan kerasnya kehidupan dan memberikan motivasi bagi pembacanya untuk menjadi muslim sejati dan senantiasa mencari keridhaan Allah Swt.

Inspirasi luar biasa yang dapat saya ambil dari tokoh novel religius ini ialah betapa banyak rintangan yang harus dilalui untuk menuju hidup yang tenteram dan bijak dengan keridhaan Allah Swt. Menjadi sebuah nikmat yang tak terhingga tatkala selalu ikhlas dan tawakal dalam menjalani setiap hidupnya. Novel ini disesuaikan dengan kondisi saat ini, sehingga pembaca seolah-olah  ikut merasakan menjadi salah seorang tokoh dari novel merasakan keadaan yang diceritakan dalam novel tersebut,  novel  ini sangat bagus untuk di baca dengan gaya bahasanya yang indah karena disampaikan dengan gaya yang puitis dan bersahaja sehingga tidak memenatkan pembaca dalam membaca pesan-pesan yang terkandung dalam novel ini.

1.2 Hakikat Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya pada ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981 : 189).                Selden (1985 : 52) mengungkapkan bahwa karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang.
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan karya sastra dengan jalan menghubungkan karya satra dengan pengarangnya.
Pendekatan ekspresif menitikberatkan pengarang, dan orientasi ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran, dan perasaannya. Orientasi ini cenderung menimbang karya sastra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokan dengan visium atau keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang.
Teori ekspresif sastra (The expressive theory of literature) adalah sebuah teori yang memandang sebuah karya sastra terutama sebagai pernyataan atau ekspresi dunia batin pengarangnya.
Atmazaki (1990:34-35) mengatakan bahwa pementingan aspek ekspresif ini disebabkan oleh alasan-alasan berikut.
  1. Pengarang adalah orang pandai;
  2. Kata author  berarti pengarang, yang bila ditambah akhiran –ity berarti berwenang atau berkuasa; dan
  3. Pengarang adalah orang yang mempunyai kepekaan terhadap persoalan, punya wawasan kemanusiaan yang tinggi dan dalam.
Pendektan ekspresif mengenai batin atau perasaan seseorang yang kemudian diekspresikan dan dituangkan ke dalam bentuk karya dan tulisan hingga membentuk sebuah karya sastra yang bernilai rasa tersendiri, dan menurut isi kandungan yang ingin disampaikan oleh pengarang (berupa karya seni). Karena karya sastra tidak dapat hadir bila tidak ada yang menciptakannya, sehingga pencipta karya sastra sangat penting kedudukannya dalam kegiatan kajian dan apresiasi sastra, pikiran, dan perasaan pengarang.
Pikiran dan perasaan pengarang adalah sumber utama dan pokok masalah dalam suatu novel. Pendekatan ekspresif ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, dan spontanitasnya.
Adapun kerangka pendekatan ekspresif sebagaimana diuraikan Atmazaki (1990:36) sebagai berikut:
  1. Pendekatan ekspresif berhubungan erat dengan kajian sastra sebagai karya yang dekat dengan sejarah, terutama sejarah yang berhubungan dengan kehidupan pengarangnya; dan
  2. Karya sastra dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang.
Teeuw (1984) menyatakan bahwa karya sastra tidak bisa dikaji dengan mengabaikan kajian terhadap latar belakang sejarah dan sistem sastra : semesta, pembaca, dan penulis. Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan kajian dan apresiasi sastra. Ini dikarenakan karya sastra pada hakikatnya adalah tuangan pengalaman penulis (Teeuw, 1984; Selden, 1985; Roekhan, 1995; Eneste, 1982).


1.3  Hakikat Teori Vladimir Propp

Selain membahas masalah struktur pembangun berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik, strukturalisme juga membahas struktur naratif cerita. Salah satu ahli yang menggeluti bidang ini adalah Vladimir Propp lahir pada tanggal 17 April 1895vdi St. Petersburg, Jerman.

 Propp memulai dengan masalah pengklasifikasian dan pengorganisasian cerita rakyat. Propp secara induktif mengembangkan empat hukum yang menempatkan sastra rakyat atau fiksi pada pijakan baru. Karena inilah Vladimir Propp dikenal sebagai cikal bakal struktural naratologis (Herman & Vervaeck, 2005: 52). Keempat hukum tersebut sebagai berikut.

1. Fungsi karakter (tokoh) sebagai sebuah penyeimbang, elemen-elemen tetap dalam sebuah cerita, tidak bergantung kepada bagaimana atau karena siapa mereka terpenuhi. Elemen-elemen tersebut membentuk komponen-komponen fundamental sebuah cerita.
2.  Jumlah fungsi yang dikenal dalam cerita peri terbatas.
3.  Rangkaian fungsi itu selalu identik.
4.  Semua cerita terdiri atas satu tipe jika dilihat dari strukturnya.

Dalam membandingkan semua fungsi cerita-cerita tersebut, Propp menemukan bahwa jumlah keseluruhan fungsi tidak lebih dari tiga puluh satu fungsi. Fungsi-fungsi tersebut disusun sebagai berikut.
1.  Salah satu anggota keluarga hilang/pergi dari rumah.
2.  Larangan ditujukan pada sang pahlawan.
3.  Larangan dilanggar.
4.  Penjahat berusaha mengintai.
5.  Penjahat menerima informasi tentang korbannya.
6.  Penjahat berusaha menipu korbannya untuk menguasai korban atau (harta) milik korban.
7.  Korban tertipu dan tanpa sadar membantu musuhnya.
8.  Penjahat membahayakan atau melukai seorang anggota keluarga.
9.  Kemalangan atau kekurangan diketahui.
10.  Pencari setuju atau memutuskan untuk mengatasi halangan.
11.  Pahlawan meninggalkan rumah.
12.  Pahlawan diuji, diinterogasi, diserang, dsb. dalam proses mendapatkan alat (agent) sakti atau penolong.
13.   Pahlawan mereaksi tindakan donor masa depan.
14.   Pahlawan memperoleh kekuatan alat sakti.
15.   Pahlawan dipindah, dikirim, atau digiring/dituntun kemana-mana dalam pencarian objek.
16.   Pahlawan dan penjahat terlibat perang langsung.
17.   Pahlawan mendapat nama (terkenal)
18.   Penjahat dikalahkan
19.   Kemalangan atau kekurangan awal berhasil dimusnahkan.
20.   Pahlawan kembali.
21.   Sang pahlawan dikejar.
22.   Penyelamatan pahlawan dari kejaran.
23.   Pahlawan – yang tidak dikenali – pulang atau pergi ke negeri lain.
24.   Seorang pahlawan palsu menyatakan tuntutan (claim) yang tidak berdasar.
25.   Sebuah tugas yang sulit diajukan pada sang pahlawan.
26.   Tugas berhasil dipecahkan.
27.   Sang pahlawan dikenali.
28.   Pahlawan palsu atau penjahat terungkap.
29.   Pahlawan palsu diberikan tampilan baru.
30.   Penjahat dihukum.
31.   Pahlawan menikah dan bertakhta.

Propp menyebut tujuh fungsi pertama sebagai unit persiapan. Komplikasi ditandai dengan nomor 10. Komplikasi diikuti dengan perpindahan, perjuangan, kembali (kepulangan), dan pengenalan.
Sebagai tambahan dari tiga puluh satu fungsi tersebut, Propp menambah tujuh “putaran aksi” (spheres of action). Ketujuhnya disusun sebagai berikut.
1.  Penjahat.
2.  Donor (penyedia).
3.  Penolong.
4.  Putri dan ayahnya.
5.  Utusan (dispatcher)
6.  Pahlawan (pencari atau korban)
7.  Pahlawan palsu.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Kajian berdasarkan pendekatan ekspresif
Novel yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya “Habiburrahman El Shirazy” ini bertemakan  religius sebagai novel pembangun jiwa, dilihat dari pendekatan ekspresif novel karya Habiburrahman El Shirazy ini dilaterbelakangi kehidupan nyatanya sendiri. Pengarang menceritakan pengalaman-pengalaman masa lalunya sebagai tuntunan hidup di masa sekarang. Ia mengenang dan menuangkan pengalaman-pengalamannya  dalam untaian tulisan yang di angkat dari  kisah masa lalunya menjadi pelajaran berharga bagi pembaca. Novel Ayat-Ayat Cinta ini mengangkat kisah seorang santri metropolitan yang menuntut ilmu di negeri Piramida. Fahri bin Abdillah adalah seorang pelajar yang berusaha mengejar gelar masternya di Al Ahzar serta kerasnya perjalanan hidup yang dihadapinya selama di Mesir. Sehubungan dengan disebutnya novel ini sebagai novel pembangun jiwa, yang menarik dalam novel ini adalah kemampuan penulisnya untuk menyisipkan pesan-pesan moral dalam ceritanya. Tidak main-main, sebagai novel pembangun jiwa, novel ini ditulis dengan menggunakan sepuluh referensi. Dalam novel ini pengarang telah berhasil menggambarkan latar sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus memakai istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karakteristik tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambar latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi.
 Novel Ayat-Ayat Cinta adalah novel yang bertutur tentang cara menghadapi naik turunnya persoalan hidup secara islam. Dalam novel ini mengambil kisah tokoh Fahri yaitu seorang pelajar Indonesia yang mengejar gelar masternya di Universitas Al-Ahzar. Ia berjibaku dengan panas dan debu Mesir. Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan empat temannya yang juga berasal dari Indonesia. Mereka adalah Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Belajar di Mesir membuat Fahri mengenal Maria, Nurul, Noura dan Aisha.
Dalam novel Ayat-Ayat Cinta pengarang memberikan kisah-kisah yang luar biasa dan menarik bagi pembacanya. Pada awal ceritanya pengarang memilih untuk menceritakan suasana Mesir di musim panas sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan bagaimana kehidupan di Mesir di kala musim panas.
“ Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir seolah menguap bau neraka. Hembusan angin sahara…..”(Ayat-Ayat Cinta:15).
Kemudian pengarang mulai menceritakan kisah kehidupan Fahri serta kebiasaan-kebiasaannya selama di Mesir yaitu pergi talaqqi mengaji bersama Syaikh Ustman seorang ulama besar di Mesir.
“ Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. …”(Ayat-Ayat Cinta:16).
Dalam bab I Gadis Mesir Itu Bernama Maria disini pengarang menceritakan kisah Fahri yang mengagumi seorang gadis Kristen Koptik yang unik bernama Maria. Gadis koptik yang menyukai Al-Quran dan bahkan hafal beberapa suratnya.
“ Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta’awudz dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Quran”.(Ayat-Ayat Cinta:24).
Dalam novel ini pengarang juga menceritakan kehidupan sosial masyarakat Mesir dan bagaimana sikap orang-orang Mesir.
“ Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri memandangi diriku dengan tersenyum”. (Ayat-Ayat Cinta:34).
“ Orang Mesir memang suka bicara. Kalau sudah bicara ia merasa paling benar sendiri”.(Ayat-Ayat Cinta:36).
Pengarang juga mampu menceritakan bagaimana orang-orang Mesir marah. Di sini pembaca benar-benar seperti merasakan berada di tengah-tengah orang Mesir.
“ Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak emosi ‘ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum’ ”.(Ayat-Ayat Cinta:38)
Memang, kalau sedang jengkel orang Mesir bisa mengatakan apa saja. Di pasar Sayyeda Zaenab aku pernah melihat seorang penjual ikan marah-marah pada istrinya. Entah karena apa. Ia menhujami istrinya dengan sumpah serapah yang kasar dan tidak nyaman di dengar oleh telinga”.(Ayat-Ayat Cinta:39).
Melalui novel ini pengarang  menyampaikan  kepada pembaca bagaimana adat seorang muslim dan muslimah saat bergaul dengan muslim lainnya atau nonmuslim.
“ Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepadaku sambil berkata ‘ Hai Indonesien, thank’s for everything. My name’s Alicia’.
‘ oh, you’re welcome. My name’s Fahri, jawabku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin menjabat tangannya.
 Ini bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran Islam, seorang laki-laki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain dengan istri dan mahramnya”. (ayat-Ayat Cinta:55).
            Melalui novel ini pula, pengarang mengajarkan ilmu fikih tentang bagaimana Islam memandang wanita dan memperlakukan wanita menurut Al-Quran.
“ Sebab itu, wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu,, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar”.(Ayat-Ayat Cinta:97).
        Dalam novel ini pengarang menceritakan kerinduannya terhadap ayah dan ibunya di kampung halaman  melalui tokoh Fahri yang ia tulis melalui sajak puisi berikut.
Selalu saja kurindu
Abad-abad terus berlalu
Berjuta kali berganti baju
Nun jauh di sana mata bening menatapku haru
Penuh rindu
Mata bundaku
Yang selalu kurindu
“ Dalam sujud kumenangis pada Tuhan, memohonkan rahmat kesejahteraan tiada berpenghabisan untuk bunda, bunda, bunda dan ayahanda tercinta”.(Ayat-Ayat Cinta:146).

        Selanjutnya pengarang mengajak kembali pembaca untuk merasakan betapa rumitnya masalah yang dihadapi oleh Fahri tatkala ia dicintai oleh tiga orang gadis. Hatinya bimbang dalam memilih siapakah nanti yang menjadi jodohnya. Yang diungkapkan pengarang melalui bait-bait dalam puisinya.
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup menghadiri
Pori-pori cinta dalam semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah yang agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku. (Ayat-Ayat Cinta:198)

Pengarang kembali menceritakan kegelisahan Fahri dalam novel ini tatkala ia harus  dijodohkan dengan seorang perempuan Mesir bernama Aisha.
“ Tiga kali aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu”.(Ayat-Ayat Cinta:203).
Dalam kisah selanjutnya, pengarang menceritakan betapa indah dan romantisnya kisah cinta Fahri yang memadu kasih bersama istri tercintanya, Aisha. Pengarang mampu membuat pembaca seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan tokoh dalam cerita.
Pengarang kembali memunculkan konflik-konflik batin yang dialami tokoh Fahri di mana ia di fitnah telah memperkosa Noura gadis yang pernah ditolongnya dulu. Cobaan-cobaan yang dihadapi tokoh Fahri ketika ia harus di hukum dalam penjara.
“ Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing kurap. Lalu diintrogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan disumpahserapahi dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya najis yang menjijikkan. Tuduan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan: memperkosa seorang gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan”.(Ayat-Ayat Cinta:307).
 Sampai pada akhirnya pengarang dalam novelnya menceritakan Aisha yang merelakan dirinya untuk dimadu Fahri. Aisha merelakan Fahri menikahi Maria dengan alasan menyelamatkan Fahri dari tuduhan pemerkosaan atas Noura.
“ Suamiku, aku sependapat denganmu. Sekarang menikahlah dengannya. Anggaplah ini ijtihad dakwah dalam posisi yang sangat sulit ini. ..”.(Ayat-Ayat Cinta:377).
“ ini jadikan mahar untuk Maria…”(Ayat-Ayat Cinta:378).
Dalam setiap kisahnya, pengarang berusaha mengupas kejadian-kejadian yang terdapat dalam novel tersebut yang disertai luapan emosi, kemarahan, kesedihan secara sempurna.
Di akhir cerita pengarang mampu menghipnotis pembaca, sehingga pembaca seolah-olah mengalami segala kejadian dan problema yang melilit tokoh yang ada dalam novel.

            Namun dalam novel ini masih ditemukan hal mustahil dalam cerita yang tidak diperhatikan oleh pengarang sebelumnya seperti tokoh Fahri yang dicintai oleh empat orang wanita dan semuanya rela menjadi istri. Kemudian Noura yang frustrasi karena tidak mendapatkan cinta Fahri, ia lantas memfitnah Fahri dengan tuduhan yang kejam.
                       
2.2 Kajian berdasarkan Vladimir Propp
1. Penjahat
            Tokoh yang difungsikan sebagai penjahat dalam  novel Ayat-Ayat Cinta adalah tokoh yang bernama Bahadur sebagai ayah Noura serta Suzan dan Mona sebagai kakak Noura. Di fungsikan sebagai tokoh jahat karena mereka memiliki sifat yang kasar, dingin dan tidak bisa menghargai orang.
Seperti yang dijelaskan pada kutipan ini.
“ Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis yang diseret oleh seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu diseret sampai ke jalan”.(Ayat-Ayat Cinta:73).
“ Sudah berulang kali kami melihat Noura dizalimi oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekerasan ayah dan dua kakaknya”.(Ayat-Ayat Cinta:73).
“ Ayah Noura yang bernama Bahadur itu memang keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak menghargai orang”.(Ayat-Ayat Cinta:74).
“ Belum sempat Tuan Boutros menyalakan mesin terdengar suara Si Muka Dingin memanggil dengan suara mengguntur…”(Ayat-Ayat Cinta:125).
  Hai Maria bicara kau! Kalau tidak ku sumpal mulutmu dengan sandal!” Si Muka Dingin menyalak keras seperti anjing. (Ayat-Ayat Cinta:125).
 “ Ia hanya pergi begitu saja sambil mengepelkan tinjunya, ia mendesis ‘ kalau kembali anak itu akan ku kuliti biar tahu rasa!”(Ayat-Ayat Cinta:126).

2.                  Donor (penyedia)
            Berdasarkan analisis novel Ayat-Ayat Cinta terdapat banyak tokoh yang berperan sebagai penyedia seperti yang tergambar pada tokoh Tuan Boutros (ayah Maria), Madam Nahed (ibu Maria), Hamdi, Saiful, Rudi, Misbah, Yousef, Syaikh Ahmad, Syaikh Ustman, Ummu Aiman, Eqbal Hakan Elbakan. Donor (penyedia) digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat ramah, baik dan rela menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya.
Dijelaskan dalam kutipan berikut.
Saful:
 Ia lantas bergegas memenuhi permintaanku. Saiful duduk di sampingku sambil memijat kedua kakiku”.(Ayat-Ayat Cinta:141).
Tuan Boutros:
  Pak Boutros masuk membawa satu botol madu”
Madam Nahed:
“ Madam Nahed meminta izin padaku untuk memeriksanya. Sambil memasang tekanan darah di lengan kananku, dia menanyakan apa yang kurasakan”.(Ayat-Ayat Cinta:141).
“ Aku tersenyum. Madam Nahed masih menganggap aku bagian dari keluarganya”(Ayat-Ayat Cinta:295).
“ Agaknya kau  terlalu memforsir dirimu. Banyak-banyaklah istirahat.ada gejala heat stroke. Kau harus minum yang banyak dan makan buah-buahan yang segar. Istirahatlah dulu. Jangan berpergian menantang matahari!” kata Madam Nahed lembut.(Ayat-Ayat Cinta:142).
Syaikh Ustman:
“ Syaikh Ustman lalu mengeluarkan botol kecil dari jubahnya. ‘Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat Nabi dan berdo’a minta kesembuhan dan ilmu yang manfaat”(Ayat-Ayat Cinta:188).
3.                  Penolong
Dalam novel Ayat-Ayat Cinta, tokoh yang berperan sebagai penolong adalah Maria dan Nurul. Tokoh Penolong digambarkan sebagai tokoh protagonist yang keberadaannya sebagai penolong tokoh utama dalam cerita.
Maria:
“ Pak Hakim dan selurruh yang hadir  dalam sidang ini, saya bersaksi atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu, sejak pukul dua sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak keluar dari kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku mengantarnya ke rumah Fahri itu bohong belaka”(Ayat-Ayat Cinta:385).
“ Apa yang dikatakan Noura adalah fitnah belaka. Dia harus mendapatkan ganjaran atas tuduhan kejinya”.(Ayat-Ayat Cinta:385).
“ Demi Allah Yang Maha Mengetahui! Aku tidak rela atas tuduhan yang dilontarkan Noura kepaada Fahri. Aku tidak rela!! Jika sampai Fahri divonis salah maka Noura akan menjadi musuhku di hadapan Allah di akhirat kelak”.(Ayat-Ayat Cinta:385).
4.                  Putri  dan Ayahnya
Dalam novel Ayat-Ayat Cinta tidak ditemukan tokoh yang berperan sebagai putri dan ayahnya secara mutlak. Dalam novel ini dimungkinkan yang dianggap sebagai putri ialah tokoh Aisha. Tokoh Aisha digambarkan memiliki sifat yang sangat baik,  ramah, ikhlas, sabar dan sopan.
“ Mom,wait! Please, sit down here!”(Ayat-Ayat Cinta:41)
“ Fahri, menikahlah dengan Maria. Aku ikhlas”.(Ayat-Ayat Cinta:3776).
“ Suamiku, kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan dosa. Yakinlah bahwa kau melakukan amal saleh”(Ayat-Ayat Cinta:378).
“ Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat menccintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu”(Ayat-Ayat Cinta:331).
5.                  Utusan
Dalam analisis  novel  ini tidak digambarkan tokoh yang berperan sebagai utusan
6.                  Pahlawan (pencari atau korban)
Berdasarkan analisis dalam novel ini tokoh yang difungsikan sebagai pahlawan ialah tokoh Fahri. Karena di sini tokoh Fahri adalah tokoh  utama yang memiliki banyak peran di dalamnya.
Seperti yang digambarkan dalam beberapa cuplikan di bawah ini.
“ Dalam kondisi yang tidak nyaman ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar”(Ayat-Ayat Cinta:16)
“ sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota”(Ayat-Ayat Cinta:19).
“ Usai makan aku melakukan rutinitasku di depan computer mengalihbahasakan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia”(Ayat-Ayat Cinta:69)
“ Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis”(Ayat-Ayat Cinta:74).
“ Apa kau tidak tergerak untuk menolongnya”(Ayat-Ayat Cinta:75).
7.                  Pahlawan Palsu
Berdasarkan analisis novel Ayat-Ayat Cinta ini tidak terdapat tokoh yang berperan sebagai pahlawan palsu.

      



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam makalah ini adalah novel Novel yang berjudul Ayat-Ayat Cinta  karrya Habiburraman El Shirazy ini termasuk novel yang bersifat serius. Novel ini tidak hanya bercerita tentang cinta yang dramatis, melainkan juga bercerita tentang  nilai budaya, nilai politik, nilai pendidikan serta. Novel ini merupakan novel yang memiliki pelajaran berharga yang bisa membuat kita lebih memperhatikan kehidupan bahkan religious.
Selain cerita latar mengenai kota Mesir yang begitu kompleks, novel ini juga menceritakan mengenai kehidupan tokoh yang bervariasi. Mulai dari kehidupan ekonomi tokoh yang kekurangan, pendidikan yang ia selesaikan di Kairo, Mesir, sampai pada kisah romantic cinta yang dialami tokoh. Semuanya terbalut dalam cerita yang dibuat oleh pengarang dengan gaya penulisan yang indah.
Kajian analasis novel ini adalah berdasarkan pendekatan ekspresif dan teori Vladimir Propp. Dan disini bisa kita lihat bagaimana analisis beradasarkan kedua teori tersebut. Penggunaan pendekatan ekspresif lebih menunjukkan pengarang menyampaikan isi dan jalan cerita serta perasaan pengarang dalam novel ini. Selain itu, untuk teori Vladimir Propp lebih menekankan pada fungsi tokoh yang ada dalam novel ini. Yaitu tujuh fungsi tokoh yang diperankan oleh tokoh pengarang.
Dengan adanya kajian analisis novel Ayat-Ayat Cinta, kita lebih mudah untuk memahami novel ini lebih dalam berdasarkan pendekatan dan teori tersebut.


DAFTAR PUSTAKA


Herman, Luc & Bart Vervaeck. 2005. Handbook of Narrative Analysis. Lincoln & London: University of Nebraska Press

Scholes, Robert. 1973. Structuralism in Literature. New Haven dan London: Yale University Press

El Shirazy, Habiburrahman. 2005.Ayat-ayat Cinta. Semarang. Pesantren Basmalah Indonesia




LAMPIRAN
Sinopsis Novel Ayat-Ayat Cinta

Sepintas lalu, novel Ayat-Ayat Cinta seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menyebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam, khususnya buat kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.
            Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya. Yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universitas Al-Ahzar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang belajar di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tidak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro.
            Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq, sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakkar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima , ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Ustman Abdul Fattah, seorang Syaikh yang cukup tersohor di seantero Mesir. Kepadanya Fahri belajar tentang qiraah Sad’ah dan Ushul tafsir. Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu. Setiap hari Ahad dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh Ustman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang yang beruntung.
            Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk, mau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda Mesir brnama Ashraf yang juga seorang muslim. Mmereka bercerita tentang banyak hal, termasuk kebenciannya terhadap Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam metro. Satu diantara mereka terlihat sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tida mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka terhadap Amerika. Sampai pada suatu saat, ketika si nenek hendak duduk mengglosor di lantai metro, ada seorang gadis  bercadar putih berih yang sebelumnya dipersilakan Fahri untuk duduk di bangku kosong, memberikan tempat duduknya untuk nenek tersebut dan meminta maaf atas perlakuan orang-orang Mesir lainnya. Di sinilah awal perdebatan itu terjadi. Orang-orang Mesir yang paham bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan si gadis bercadar. Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan makian kepada gadis itu, dan ia pun hanya terkejut diam dan takut. Kemudian Fahri berusaha untuk meredakan perdebatan itu dengan menyuruh mereka membaca shalawat Nabi karena biasanya orang Mesir akan luluh kemarahannya jika mengucap Shalawat Nabi dan ternyata berhasil. Lalu ia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa apa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar, dan umpatan-umpatan itu tidak layak diucapkan. Namun yang terjadi mereka kembali marah dan menyuruh Fahri untuk tidak ikut campur dalam masalah ini. Kemudian emosi mereka mereda ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu, mengatakan bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar yang hafal Al-Qur’an dan juga murid dari Syaikh Ustman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu meminta maaf pada Fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasannya mereka tidak seharusya bertindak seperti itu karena ajaran Nabi tidak seperti itu. Lalu ia pun menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap pada tamu apalagi orang asing yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosulullah Saw. Mereka pun mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah mengingatkan mereka. Sementara itu, si bule perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan tentang apa yang terjadi pada si perempuan bercadar dengan bahasa inggris yang fasih. Kemudian Alicia berterima kasih pad menyerahkan kartu namanya pada fahri. Tak berapa lama kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun bersiap untuk turun. Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah menolongnya tadi. Akhirnya merekapun berkenalan. Dan ternyata si gadis itu bukanlah orang mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir. Ia bernama Aisha.
            Di Mesir fahri tinggal dengan empat orang temannya yang juga orang Indonesia, mereka tinggal di sebuah apartemen yang mempunyai dua lantai . Dimana lantai bawah ditempati oleh Fahri dank e empat temannya dan yang atas di tempati oleh sebuah keluarga Kristen koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Walaupun antara Fahri dkk dan keluarga Boutros berbeda keyakinan mereka bisa terjalin baik. Apalagi dengan Maria, Fahri menganggap dia sebagai seorang koptik yang aneh yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh gadis muslim, yaitu dia menyukai Al-Qur’an dah juga mengahafa surat Al- Maidah dan surat Maryam. Bahkan keluarga ini juga sangat baik pada fahri dkk, saat Fahri sakit keluarga itu juga yang membawa Fahri ke Rumah Sakit. Selain bertetangga denga keluarga Boutros Fahri juga bertetangga  lain dengan berkulit hitam yang kepala keluarganya bernama Bahadur yang terkenal dengan si muka dingin. Bahadur mempunyai tiga orang anak yang salah satunya berbeda dengan keluarga mereka, yaitu naura. Naura sangat di benci oleh semua keluarganya hingga suatu malam dia disiksa oleh Bahadur, Fahri yang tak tega melihatnya pun sms Maria agar Maria menolong Noura hingga malam itu Noura menginap di eluarga Boutros dan malam itu juga menjadi penderitaan yang sama bagi Fahri.






























1 komentar:

  1. Kak siska, ini skripsi atau apa? boleh tau judulnya?

    BalasHapus